BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Public relation adalah proses interaksi dimana public relation
menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak,
dan menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuan
menanamkan keinginan baik, kepercayaan saling adanya pengertian, dan citra yang
baik dari publiknya.
Tujuan dari public relation adalah untuk menciptakan citra baik
perusahaan sehingga dapat menghasilkan kesetiaan publik terhadap produk yang
ditawarkan oleh perusahaan. Selain itu public relation bertujuan untuk
menciptakan, membina dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi lembaga
atau organisasi di satu pihak dan dengan publik di lain pihak dengan komunikasi
yang harmonis dan timbal balik.
Public relation berorientasi kepada pihak perusahaan untuk
membangun citra positif perusahaan, dan hasil yang lebih baik dari sebelumnya
karena mendapatkan opini dan kritik dari konsumen. Tetapi jika fungsi public
relation yang dilaksanakan dengan baik benar-benar merupakan alat yang ampuh
untuk memperbaiki, mengembangkan peraturan, budaya organisasi, atau perusahaan,
dan suasana kerja yang kondusif, serta peka terhadap karyawan, maka diperlukan
pendekatan khusus dan motivasi dalam meningkatkan kinerjanya.
1.2. Tujuan
Dalam penelitian ini, penulis ingin mengetahui bagaimana
perkembangan Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) dewasa ini.
Sehubungan dengan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti
lebih lanjut mengenai hal-hal sebagai berikut :
a.
Sistem
perekrutan staff BKSM.
b.
Sistem
operasional BKSM.
c.
Kepuasan
pelayanan BKSM.
1.3. Hipotesis
BKSM hanya suatu unit usaha yang bergerak dalm bidang kesehatan
dengan segala sistem yang telah berlaku.
1.4. Metodologi
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode :
I.
Wawancara
bersama ustadz pengurus BKSM.
II.
Wawancara
bersama santri pasien BKSM.
III.
Wawancara
bersama wali santri pasien.
IV.
Wawancara
bersama perawat BKSM.
V.
Wawancara
bersama doktor BKSM.
VI.
Wawancara
bersama masyarakat sekitar BKSM.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Sistem perekrutan staff BKSM
Sistem
perekrutan staff-staff BKSM adalah dengan open reqruitement alias sistem
“penarikan” dari staff yang telah bekerja. Tidak di ketahui bagaimana awal mula
perekrutan staff di BKSM karena pengurusnya sendiri pun tidak mengetahuinya. Perawat
pun di ambil dari lulusan D-3 dari Akademi Perawat dari berbagai Universitas di
Ponorogo. Jumlah perawat yang ada di BKSM dewasa ini adalah 9 orang. Cleaning
service 2 orang yang diambil dari kerabat ibu yang menjadi juru masak alias
koki di BKSM. Dokter pun hanya satu orang, yang direkrut dari lulusan
kedokteran di UNAIR Surabaya dengan status telah mendapatkan gelar sarjana dan
gelar profesi. Sistem perekrutan dokter pun memakai sistem “penarikan” dari
dokter yang telah bekerja sebelumnya. Dengan menggunakan solidaritas antar
kawan sesama lulusan kedokteran di UNAIR Surabaya. Jika dokter tersebur ingin
melanjutkan studinya, maka dokter itu pasti mencari penggantinya agar BKSM
tetap memiliki dokter. Untuk pengurus
sendiri merekrut dari lulusan KMI yang baru sekitar 2 orang tiap tahunnya.
2.2. Sistem Operasional BKSM
BKSM buka selama 24 jam. Dengan jadwal shift dua kali, dari jam 7
sampai jam 4, dan shift selanjutnya dari jam 4 sampai keesokan harinya jam 7.
Setiap shift berisi 3 sampai 4 perawat. Seminggu sekali perawat memiliki waktu
libur. Semua perawat berasal dari Ponorogo, jadi mereka tidak tinggal di BKSM.
Hanya dokter yang tinggal di BKSM bersama dengan para pengurus. Dokter juga
hanya ada ketika pagi dan malam, biasanya di siang hari cukup para perawat yang
menjaga. BKSM memiliki dua sistem operasional, perawatan biasa dan UGD. Untuk
santri pun tidak di pungut biaya secara langsung, tetapi sudah masuk dalam
pembayaran bulanannya. Untuk masyarakat sudah pasti di pungut biaya. BKSM juga
menyediakan persalinan. Obat-obat di BKSM mengambil dari La-Tansa Apotik.
Pengurus terlebih dahulu mendatakan obat-obat yang tidak ada dan obat yang
kekurangan stok, untuk kemudian di laporkan kepada staff La-Tansa Apotik untuk
pengiriman. BKSM ini lebih ke pertolongan pertama dalam segala penyakit. Sebelum
santri dapat berobat diluar, santri harus terlebih dahulu di periksa di BKSM,
dan jika BKSM tidak mampu menyembuhkannya, baru staff BKSM mengeluarkan surat
izin untuk berobat di luar pondok. Luar pondok pun dalam artian hanya di
sekitar Ponorogo.

S
Waktu
jenguk bagi santri hanya sore dan setelah maghrib. Untuk wali santri, jam
jenguk yakni 24 jam, karena pengurus paham bagaimana kecemasan orang tua pada
anaknya, apalagi jika wali santri datang dari jauh untuk mengurus anaknya yang
sedang sakit. Bagi santri yang rawat inap, akan dipingut biaya sejumlah
Rp.15.000. Dengan jadwal makan 3 kali sehari dengan lauk yang berbeda beda.
BKSM juga menerima peminjaman biaya jika ada santri yang berobat di luar dan
tidak memliki biaya.
2.3. Kepuasan pelayanan BKSM
BKSM dalam pandangan santri ialah “lumayan”. Dengan sistem
operasionalnya yang tidak terlalu susah, santri merasa “lumayan” dengan
pelayananya. Wali santri menganggap BKSM cukup bagus untuk menanggulangi
penyakit sebagai pertolongan pertama agar santri tidak tidak terbengkalai dan
tak terurus di kamar. Masyarakat pun mengatakan “lumayan” dalam pelayanan kesehatan
di BKSM.
2.4. Hasil Penelitian
Balai
Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) adalah salah satu dari unit usaha pondok. Bagian ini adalah salah satu dari
bagian-bagian yang dibentuk untuk memperlancar proses pembelajaran dan
pendidikan di pondok.
Pentingnya
Public Relation dalam membuat opini publik dan meyakinkan publik memang
sangatlah penting. Banyak masyarakat di sekitar BKSM yang tidak tahu bagaiamana
sistem operasionalnya, apa hanya untuk santri, atau boleh juga untuk
masyarakat. Masyarakat dalam hal ini
masih ambigu. Dan inilah tugas PR untuk meluruskan yang salah alias memperjelas
yang belum jelas, untuk meyakinkan kepada publik hingga memperoleh opini publik
yang berkualitas. BKSM memang sudah baik di dalam, tapi akan lebih bagus lagi
jika baik di luar, dalam artian baik di pandangan masyarakat sekitar. Agar
lebih memperlancar dan membantu sistem pengajaran dan pendidikan di Gontor.
Tantangan
tersendiri bagi perawat dan dokter BKSM untuk dapat mengetahui apakah santri
yang berobat disana benar-benar sakit atau hanya menjadi alasan untuk menjadi
malas dan tak ingin masuk kelas. Karena BKSM juga mengikuti aturan pondok,
itulah yang membedakan klinik BKSM dengan klinik yang lain.
BAB III
PENTUTUP
3.1.
Kesimpulan
Balai
Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) adalah salah satu dari unit usaha pondok. Bagian ini adalah salah satu dari
bagian-bagian yang dibentuk untuk memperlancar proses pembelajaran dan
pendidikan di pondok.
Akan
lebih berkembang lagi jika ada PR di dalam sistem operasional BKSM agar lebih
berkembang sehingga memunculkan opini publik yang berkualitas.
3.4. Kritik dan Saran
Untuk keseluruhan anggota pengurus BKSM agar lebih berbaur dengan masyarakat,
sehingga masyarakat dapat mengenal lebih terkait sistem operasional BKSM.
No comments:
Post a Comment