Friday, May 15, 2015

LAPORAN PENELITIAN BKSM

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Public relation adalah proses interaksi dimana public relation menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak, dan menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuan menanamkan keinginan baik, kepercayaan saling adanya pengertian, dan citra yang baik dari publiknya.
Tujuan dari public relation adalah untuk menciptakan citra baik perusahaan sehingga dapat menghasilkan kesetiaan publik terhadap produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Selain itu public relation bertujuan untuk menciptakan, membina dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi lembaga atau organisasi di satu pihak dan dengan publik di lain pihak dengan komunikasi yang harmonis dan timbal balik.
Public relation berorientasi kepada pihak perusahaan untuk membangun citra positif perusahaan, dan hasil yang lebih baik dari sebelumnya karena mendapatkan opini dan kritik dari konsumen. Tetapi jika fungsi public relation yang dilaksanakan dengan baik benar-benar merupakan alat yang ampuh untuk memperbaiki, mengembangkan peraturan, budaya organisasi, atau perusahaan, dan suasana kerja yang kondusif, serta peka terhadap karyawan, maka diperlukan pendekatan khusus dan motivasi dalam meningkatkan kinerjanya.

1.2. Tujuan
Dalam penelitian ini, penulis ingin mengetahui bagaimana perkembangan Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) dewasa ini.
Sehubungan dengan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai hal-hal sebagai berikut :
a.       Sistem perekrutan staff BKSM.
b.      Sistem operasional BKSM.
c.       Kepuasan pelayanan BKSM.
1.3. Hipotesis
            BKSM hanya suatu unit usaha yang bergerak dalm bidang kesehatan dengan segala sistem yang telah berlaku.
1.4. Metodologi

Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode :
I.                   Wawancara bersama ustadz pengurus BKSM.
II.                Wawancara bersama santri pasien BKSM.
III.             Wawancara bersama wali santri pasien.
IV.             Wawancara bersama perawat BKSM.
V.                Wawancara bersama doktor BKSM.
VI.             Wawancara bersama masyarakat sekitar BKSM.




BAB II



PEMBAHASAN

2.1. Sistem perekrutan staff BKSM
Sistem perekrutan staff-staff BKSM adalah dengan open reqruitement alias sistem “penarikan” dari staff yang telah bekerja.  Tidak di ketahui bagaimana awal mula perekrutan staff di BKSM karena pengurusnya sendiri pun tidak mengetahuinya. Perawat pun di ambil dari lulusan D-3 dari  Akademi Perawat dari berbagai Universitas di Ponorogo. Jumlah perawat yang ada di BKSM dewasa ini adalah 9 orang. Cleaning service 2 orang yang diambil dari kerabat ibu yang menjadi juru masak alias koki di BKSM. Dokter pun hanya satu orang, yang direkrut dari lulusan kedokteran di UNAIR Surabaya dengan status telah mendapatkan gelar sarjana dan gelar profesi. Sistem perekrutan dokter pun memakai sistem “penarikan” dari dokter yang telah bekerja sebelumnya. Dengan menggunakan solidaritas antar kawan sesama lulusan kedokteran di UNAIR Surabaya. Jika dokter tersebur ingin melanjutkan studinya, maka dokter itu pasti mencari penggantinya agar BKSM tetap memiliki dokter.  Untuk pengurus sendiri merekrut dari lulusan KMI yang baru sekitar 2 orang tiap tahunnya.
2.2. Sistem Operasional BKSM
            BKSM buka selama 24 jam. Dengan jadwal shift dua kali, dari jam 7 sampai jam 4, dan shift selanjutnya dari jam 4 sampai keesokan harinya jam 7. Setiap shift berisi 3 sampai 4 perawat. Seminggu sekali perawat memiliki waktu libur. Semua perawat berasal dari Ponorogo, jadi mereka tidak tinggal di BKSM. Hanya dokter yang tinggal di BKSM bersama dengan para pengurus. Dokter juga hanya ada ketika pagi dan malam, biasanya di siang hari cukup para perawat yang menjaga. BKSM memiliki dua sistem operasional, perawatan biasa dan UGD. Untuk santri pun tidak di pungut biaya secara langsung, tetapi sudah masuk dalam pembayaran bulanannya. Untuk masyarakat sudah pasti di pungut biaya. BKSM juga menyediakan persalinan. Obat-obat di BKSM mengambil dari La-Tansa Apotik. Pengurus terlebih dahulu mendatakan obat-obat yang tidak ada dan obat yang kekurangan stok, untuk kemudian di laporkan kepada staff La-Tansa Apotik untuk pengiriman. BKSM ini lebih ke pertolongan pertama dalam segala penyakit. Sebelum santri dapat berobat diluar, santri harus terlebih dahulu di periksa di BKSM, dan jika BKSM tidak mampu menyembuhkannya, baru staff BKSM mengeluarkan surat izin untuk berobat di luar pondok. Luar pondok pun dalam artian hanya di sekitar Ponorogo.
     



S


Waktu jenguk bagi santri hanya sore dan setelah maghrib. Untuk wali santri, jam jenguk yakni 24 jam, karena pengurus paham bagaimana kecemasan orang tua pada anaknya, apalagi jika wali santri datang dari jauh untuk mengurus anaknya yang sedang sakit. Bagi santri yang rawat inap, akan dipingut biaya sejumlah Rp.15.000. Dengan jadwal makan 3 kali sehari dengan lauk yang berbeda beda. BKSM juga menerima peminjaman biaya jika ada santri yang berobat di luar dan tidak memliki biaya.
2.3. Kepuasan pelayanan BKSM
            BKSM dalam pandangan santri ialah “lumayan”. Dengan sistem operasionalnya yang tidak terlalu susah, santri merasa “lumayan” dengan pelayananya. Wali santri menganggap BKSM cukup bagus untuk menanggulangi penyakit sebagai pertolongan pertama agar santri tidak tidak terbengkalai dan tak terurus di kamar. Masyarakat pun mengatakan “lumayan” dalam pelayanan kesehatan di BKSM.
2.4. Hasil Penelitian

Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) adalah salah satu dari unit usaha  pondok. Bagian ini adalah salah satu dari bagian-bagian yang dibentuk untuk memperlancar proses pembelajaran dan pendidikan di pondok.
Pentingnya Public Relation dalam membuat opini publik dan meyakinkan publik memang sangatlah penting. Banyak masyarakat di sekitar BKSM yang tidak tahu bagaiamana sistem operasionalnya, apa hanya untuk santri, atau boleh juga untuk masyarakat.  Masyarakat dalam hal ini masih ambigu. Dan inilah tugas PR untuk meluruskan yang salah alias memperjelas yang belum jelas, untuk meyakinkan kepada publik hingga memperoleh opini publik yang berkualitas. BKSM memang sudah baik di dalam, tapi akan lebih bagus lagi jika baik di luar, dalam artian baik di pandangan masyarakat sekitar. Agar lebih memperlancar dan membantu sistem pengajaran dan pendidikan di Gontor.
Tantangan tersendiri bagi perawat dan dokter BKSM untuk dapat mengetahui apakah santri yang berobat disana benar-benar sakit atau hanya menjadi alasan untuk menjadi malas dan tak ingin masuk kelas. Karena BKSM juga mengikuti aturan pondok, itulah yang membedakan klinik BKSM dengan klinik yang lain.




BAB III


PENTUTUP

3.1. Kesimpulan
Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) adalah salah satu dari unit usaha  pondok. Bagian ini adalah salah satu dari bagian-bagian yang dibentuk untuk memperlancar proses pembelajaran dan pendidikan di pondok.
Akan lebih berkembang lagi jika ada PR di dalam sistem operasional BKSM agar lebih berkembang sehingga memunculkan opini publik yang berkualitas.

3.4. Kritik dan Saran

            Untuk keseluruhan anggota pengurus BKSM agar lebih berbaur dengan masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengenal lebih terkait sistem operasional BKSM.

No comments:

Post a Comment